Artikel :
- Sudah menjadi maklumat umum bahwa Indonesia merupakan negara yang memilik...
- Dewasa ini umat Islam menghadapi berbagai macam tantangan yang cukup berat....
- Berapa waktu lalu pelajar SLTA di Indonesia menghadapi ujian nasional (UN) ...
- Salah satu hal menarik untuk dibicarakan setelah pesta demokrasi adalah per...
- Lagi-lagi khazanah intelektual Islam diserang. Ini memang bukan kali pertam...
- Judul : Negeri 5 Menara Penulis : Ahmad Fuadi Pe...
- Sepanjang hidup, kita telah menyaksikan berbagai macam pemandangan; taman-t...
- Taharrok Fainna Filharakatil barakah, Wainnal Barakah Filharakah (KH. Abdu...
- Menjadi pemimpin sungguhlah sangat berat dan beresiko besar terutama jika i...
- Berikut renungan-renungan kecil tentang beberapa alasan atau motivasi belaj...
Pemimpin Indonesia, Harus Bagaimana?
Ditulis oleh Abdurrahman Samboo
Namun, ironis jika melihat fenomena yang ada sekarang. Para tokoh yang mengaku peduli akan nasib bangsa berlomba-lomba dan saling berebutan menuju kursi terpanas dalam pentas politik Nusantara ini. Mereka mungkin belum pernah mendengar kisah Umar II yang jenggotnya basah oleh air mata di hari ia dilantik sebagai kepala negara karena merasa ngeri membayangkan pekerjaan yang sangat berat di depannya.
Dalam situs Gamais ITB (Keluarga Mahasiswa Islam Institut Pertanian Bandung) dijelaskan dua langkah menjadi seorang pemimpin yang sukses. Pertama, ia harus belajar untuk siap dipimpin oleh siapapun dan dalam keadaan apapun. Kedua, ia juga harus belajar cara memimpin yang baik. Dengan dua kesadaran untuk belajar ini, kepemimpinan yang kuat dan tangguh niscaya akan menjadi suatu hal yang sangat mungkin bagi setiap insan.
Problematika bangsa Indonesia bisa dibilang sangat rumit dan kompleks. Wilayah yang meluas dalam bentuk ribuan pulau dan lautan plus ke-bhinneka-an suku dan penduduk, tentu saja, berdampak ragamnya pola pikir, keinginan, dan kepentingan setiap individu yang mendiami negara ini. Hal-hal di atas pada akhirnya menjelma menjadi penyebab multi dimensi-nya problematika di Indonesia.
Untuk menyelesaikan “mega proyek” ini, logisnya dibutuhkan sosok pemimpin yang mega kemampuan juga. Dalam artikel Diperlukan Pemimpin Bangsa Yang Luar Biasa (UIN Malang, 2009) sedikitnya ada tiga syarat yang kudu dimiliki oleh sosok pemimpin Indonesia saat ini, yaitu memiliki jiwa yang kokoh, mempunyai pengetahuan yang benar, dan berakhlak mulia.
Lebih jauh lagi, ketiga hal ini sebaiknya berpusat dalam keimanan terhadap Zat yang Maha Mulia lagi Maha Kuasa. Karena hanya dengan sumber inspirasi dan kekuatan yang tiada terkira tersebut, niscaya pemimpin Indonesia akan senantiasa menjadi pelita bagi umat dan rakyat dalam mengarungi terjalnya kehidupan di dunia modern ini.
Suatu fakta yang tak terbantahkan adalah problematika kehidupan manusia di era milenium sekarang bahkan semakin rumit dan kompleks. Krisis-krisis yang menggelayuti kehidupan datang silih berganti. Jika disebutkan, semisal krisis ekonomi, krisis minyak, epidemi flu babi, pemanasan global, dan masih banyak lagi.
Situasi tidak menguntungkan ini mau tidak mau mengharuskan kemunculan sosok-sosok pemimpin yang mempunyai tiga unsur terpenting guna menyukseskan misinya sebagai seorang pelindung, pengemong, dan penggembala umat manusia.
Satu, ia harus mempunyai head leadership, atau kemampuan merasionalkan permasalahan secara jeli dan sistematis. Dua, ia juga kudu memiliki heart leadership, alias kemampuan berempati terhadap keadaan sosial orang-orang di sekelilingnya atau rakyat yang dipimpinnya. Tiga, ia wajib menggunakan gut leadership atau nyali keberanian dalam memimpin dan memutuskan apapun menyangkut urusan-urusan rakyatnya.
Ketiga hal inilah yang disebut-sebut sebagai comprehensive leadership atau kepemimpinan utuh dalam kaitannya untuk menuntaskan permasalahan-permasalahan kebangsaan secara menyeluruh.
Rumusan ini seperti yang ditelorkan oleh tiga penulis handal bidang kepemimpinan atau leadership, David L. Dotlich, Peter C. Cairo, dan Stephen H. Rhinesmithm dalam buku mereka, Head, Heart & Guts (2007).
Makna seorang Presiden Indonesia sejatinya telah berubah dengan adanya gerakan reformasi. Presiden Indonesia sebelum '98 atau Tahun Reformasi merupakan presiden penegasan jati diri dan pembangunan bangsa. Sedangkan presiden paska reformasi mempunyai arti lebih jika mau dibandingkan.
Reformasilah yang melahirkan pemaknaan ini dengan membebankan kepada setiap Presiden Indonesia paska reformasi untuk: Satu, memperbaiki moral dan mental bangsa; Dua, mensukseskan gerakan reformasi dan mengejawentahkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya; Tiga, membawa kehidupan bangsa menuju masa depan yang gemilang; dan Empat, memenangkan nurani rakyat (The Indonesia Institue).
Menurut penulis, semenjak presiden pertama, Ir Soekarno, permasalahan-permasalahan kebangsaan sesungguhnya belum selesai. Bahkan, suksesi Bung Karno –yang masih dimisteriuskan--tahun '66 diliputi kemelut dan chaos dahsyat dalam bidang ekonomi dan politik. Memang Jenderal Soeharto yang menerima amanah pada masa berikutnya, pada mulanya, menjalankan tugas secara apik dan rapi.
Namun, amat disayangkan, kinerja pemerintahan Soeharto yang secara lahir terlihat manis itu rupa-rupanya menyisakan petaka besar bagi Bangsa Indonesia. Ketika Soeharto melepas jabatannya sebagai Eksekutif Nomor Wahid se-Indonesia, keadaan ekonomi dan sosial bangsa terjun bebas hingga menyentuh titik terendah.
Presiden era reformasi –dalam hal ini termasuk SBY yang menang mutlak di Pilpres 8 Juli 2009 kemarin—mempunyai tugas-tugas yang tidak ringan mencakup setidaknya empat hal yang telah disebutkan di atas.
Ia harus bisa memperbaiki moral bangsa yang telah digerogoti oleh penyakit-penyakit kronis seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Presiden sekarang juga harus mengerti benar apa dan kemana arah tujuan reformasi. Reformasi berarti upaya perbaikan dalam segala sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak boleh makna reformasi ini menyempit dalam hal-hal yang bias maupun parsial.
Masih terkait dengan hal kedua di atas, presiden sekarang juga wajib berusaha menjadikan perbaikan-perbaikan dalam segala sektor tersebut benar-benar menjadi kenyataan, terutamanya perbaikan ekonomi.
Dan terakhir, kebebasan berpolitik Warga Negara Indonesia yang selama era Soeharto dibelenggu dengan besi-besi tiranisme mutlak harus diperjuangkan dengan membela hak-hak kaum tertindas masa itu dan menghukum "kaum-kaum penindas" yang benar-benar telah terbukti melanggar hukum dan HAM.
Menuju Indonesia sukses ke depan tentunya membutuhkan baik kesiapan mental calon pemimpin dan kecerdasan rakyat yang memilihnya. Setiap calon pemimpin seharusnya sudah memahami dengan baik problematika yang sekarang sedang menekan nadi kehidupan rakyat Indonesia. Begitu pula insan Indonesia harus mulai lebih pintar dan cerdas dalam memilih pemimpin-pemimpinnya serta tidak lagi terjebak dalam primordialisme seperti yang dulu-dulu.
Sebagai penutup, semoga presiden terpilih 2009-2014 mampu menunaikan amanatnya dengan baik dan lancar, melanjutkan visi dan misinya, tetap pro rakyat, serta harus lebih cepat dalam menangani permasalahan-permasalahan bangsa menuju Indonesia gemilang di masa yang akan datang.
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 640
Comments (0)

Write comment
La Tansa Magazine
Pesan Singkat
Milis IKPM Cab. Kairo
Pengunjung Hari Ini






![]() | Today | 33 |
![]() | Yesterday | 51 |
![]() | This Week | 239 |
![]() | This Month | 1530 |
![]() | All Days | 19877 |
38.107.191.89









